2022 ini adalah post pertama setelah tahun yang lalu yang kelabu. 2021 merupakan tahun ketidakpastian yang pernah aku lalui sampai saat usiaku menginjak 22 tahun. Tahun lalu (2021) merupakan dimana tahun terahir aku menjadi seorang mahasiswa sarja dan tepat di bulan agustus juga aku wisuda dari yang namanya kampus. Jauh jauh hari sebelum aku tamat aku merencanakan apa yang akan aku lakukan ketika keluar dari bagku kuliah, naas semua mimpi yang aku bangun nampaknya belum bisa terwujud tahun lalu. Semua hal hal bahagia yang ada di dalam benak sirna di tangan yang maha kuasa karena beliau menunjukan kuasanya mengenai peristiwa peristiwa yang terjadi tahun lalu.
Tahun lalu merupakan tahun yang terburuk sekaligus terbaik yang pernah aku rasakan, tahun lalu mengajariku banyak hal terutama dalam pengenalan diri sendiri, anatar siapa sebenernya diriku ini dan bagaimana aku bertingkah dengan diri sendiri, keluarga, teman dan seseorang terdekat denganku. Tahun lalu merupakan titik awal perubahanku dari pribadi yang sekiranya egois akan diri sendiri dan orang lain, sederet peristiwa banyak terjadi terutama berpisah dengan seseorang yang telah menemani kurang lebihnya tiga tahun. Tuhan memberikan pengalaman yang sungguh tidak terduga dimana aku harus dipisahkan dengan orang itu, apa daya sebagai seorang pribadi yang lemah aku hanya mengikuti alurnya. Dari peristiwa ini aku belajar banyak hal akan sikap dan perbuatan dari sendiri untuk orang banyak, belajarnya dari berbagai literature buku, internet dan kata kiasan.
Setelah peristiwa itu, pribadi ini sangat merasa kehilangan dan tidak bisa membalikan keadaan seperti sedia kala dimana semuanya begitu indah dengan rencana”nya. Aku hanya bisa menerima dengan apa yang sudah terjadi karena aku sadar kalau itu terlalu dipikirkan juga tidak dapat kembali lagi. Bukanya aku menyerah dengan keadaan namun memang seperti yang sudah terjadi, aku tidak mencoba berhayal kembali ke belakang dimana aku memperbaiki saat itu saat ini namun aku memilih menerima apa yang sudah terjadi sampai detik ini.
Selain itu aku juga masih kebingungan sampai saat ini mengenai masa depan, aku masih mencoba menempa masa sekarang demi masa depanku. Mimpi mimpiku belum sepenuhnya sirna, namun masih bisa diwujudkan. Mungkin aku memiliki posisi yang sama dengan orang diluar sana, ceritaku kurang lebihnya sama namun dengan pengalaman yang berbeda. Sampai titik ini aku belum menyerah untuk mewujudkan mimpiku, saat ini aku tidak ini mencantumkanya disini karena ini mimpiku yang selayaknya buat diriku sendiri. Alasan menyerah hanya sebuah peralihan dari seorang pribadi yang sedang lelah dengan keadaan, situasi dan kondisi namun dibalik itu tetaplah teguh pendirian dengan diri. Kalau tidak diri sendiri siapa lagi?
